Indeks Massa Tubuh Penting, tapi Jangan Jadikan Acuan Utama

Apa Itu Indeks Massa Tubuh?

Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan standar pengukuran kesehatan yang ditemukan oleh Quetelet pada 1832 dan masih digunakan di kebanyakan fasilitas kesehatan sampai sekarang. IMT digunakan untuk mengkategorikan berat badan seseorang dengan membandingkannya dengan tinggi badan (yang sudah dikuadratkan) dimana di dalamnya terdapat sangat kurus, kurus, normal/sehat, gemuk, dan obesitas. Salah satu kalkulator yang dapat digunakan untuk menghitung IMT adalah kalkulator US National Institute of Health. Pada dasarnya, dapat dikatakan bahwa semakin nilai IMT jauh dari kategori berat badan normal, maka semakin tinggi risiko kesehatan yang dimiliki. Nilai IMT sesuai kategori kementerian kesehatan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Kategori

Nilai IMT

Sangat kurus

< 17

Kurus

17 – <18,5

Normal

18,5 – 25

Gemuk

>25 – 27

Obesitas

> 27

Penggunaan dan Kategorisasi IMT

Quatelet mengembangkan IMT dengan tujuan untuk memetakan masyarakat mana yang memiliki obesitas sehingga pemerintah dapat terbantu dalam pengalokasian sumber daya baik dalam hal kesehatan maupun keuangan. Hal yang menarik dari ditemukannya IMT ini, sesuai dengan penjelasan sebelumnya, Quatelet membuat IMT dengan tujuan atau berfokus pada kesehatan populasi suatu wilayah, namun pada kenyataannya IMT banyak digunakan untuk penilaian kesehatan individu.

Mengapa IMT Masih Relevan dan Masih Digunakan

Walaupun digunakan tidak sesuai dengan tujuan awal penemunya, beberapa studi membuktikan bahwa nilai IMT memiliki hubungan yang signifikan. Contohnya yang terjadi pada studi yang melibatkan 16.868 orang dimana yang masuk dalam kategori obesitas memiliki risiko kematian berhubungan dengan jantung 20% lebih tinggi dibandingkan dengan orang dengan nilai IMT normal. Studi lain juga menyebutkan bahwa orang dengan kategori IMT kurus meninggal rata-rata 6,7 tahun lebih awal dibandingkan dengan orang dengan IMT normal.

Peneliti juga banyak orang yang mengalami penurunan nilai IMT sebesar 5-10% biasanya berhubungan dengan penyakit jantung, diabetes melitus tipe 2 dan menurunnya metabolisme tubuh. Selain itu, peneliti lain juga menemukan bahwa orang-orang dengan nilai IMT lebih dari 30 cenderung memiliki risiko penyakit-penyakit serupa seperti penyakit jantung, diabetes mellitus tipe 2, penyakit hati/liver, dan gangguan pernapasan. Berdasarkan bukti-bukti tadi, maka banyak tenaga kesehatan masih menggunakan IMT sebagai pengukuran atau screening awal kesehatan individu.

Kekurangan IMT Sebagai Alat Pengukur Kesehatan

IMT memang terbukti memiliki hubungan signifikan terhadap kesehatan individu, akan tetapi perlu juga mempertimbangkan hal lain selain IMT, karena masih ada banyak kekurangan yang dimiliki oleh indeks yang ditemukan hampir 2 abad ini. Salah satunya adalah, IMT mengabaikan lemak dan massa otot di dalam tubuh apalagi perbandingan lemak dan massa otot pada pria dan wanita berbeda, namun pada perhitungan IMT, keduanya disamaratakan.

Secara tidak langsung, metode ini seolah beranggapan bahwa semua berat badan tubuh tiap individu sama saja, padahal secara umum dapat dikatakan bahwa 1 kg berat otot lebih sehat dibanding 1 kg berat lemak individu. Ditakutkan terdapat kesalahan interpretasi sebagai gambaran Mike Tyson saat menjuarai Tinju Kelas Berat memiliki berat badan 99 kg dengan tinggi 180 cm sehingga memiliki nilai IMT 30,6. Apabila mengikuti standar kemenkes, maka ia dikategorikan sebagai obesitas, padahal dapat dilihat pada gambar di bawah bahwa berat badan Tyson saat itu didukung oleh massa otot yang tinggi. Kekurangan IMT yang lain adalah mengabaikan faktor-faktor lain, seperti usia, genetik, riwayat kesehatan dan gaya hidup.

Pelengkap IMT

Selain Indeks Massa Tubuh, ada alat pengukur kesehatan yang tidak kalah penting. Beberapa di antaranya adalah kadar kolesterol, gula darah, dan tekanan darah atau tensi. Ketiga pengukuran tersebut tidak dapat dilihat hanya dari pengukuran Indeks Massa Tubuh saja, melainkan harus dilakukan tes secara terpisah. Ada juga pengukuran lingkar pinggang, dan rasio pinggang-pinggul atau Waist-to-hip ratio yang dapat dilakukan dengan pita pengukur sederhana. Oleh karena itu, penting untuk tidak bergantung sepenuhnya pada IMT dalam menilai kesehatan individu.

Fokus pada Hal-Hal yang Tidak Kalah Penting

Tidak ada salahnya menggunakan Indeks Massa Tubuh sebagai tolok ukur berat badan ideal dan sebagai pengingat akan risiko beberapa penyakit kronis yang mengintai. Jika IMT anda belum normal, maka tidak ada salahnya untuk berusaha memperbaiki pola makan dan rutinitas olahraga, namun apabila anda memiliki massa otot yang tinggi atau sudah memiliki gaya hidup yang sehat dan nilai IMT masih belum normal, maka tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan nilai IMT anda. Nilai ini memang berguna untuk screening awal kesehatan, namun perlu diingat bahwa indeks ini bukan satu-satunya penilaian kesehatan individu. Cukup fokus saja pada penerapan gaya hidup sehat.

Tabel Indeks Massa Tubuh berdasarkan tinggi dan berat badan. Kamu masuk kategori apa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *