Lebih Mudah Mengelola Persediaan Obat Rumah Sakit dengan SIMRS

Obat adalah suatu bahan yang bertujuan untuk mencegah, mengurangi, menghilangkan, dan menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit dan luka. Pemberian obat merupakan salah satu proses yang sangat vital di pelayanan kesehatan. Pada rumah sakit obat diberikan oleh apoteker sesuai dengan resep dari dokter. Apabila terjadi kesalahan dalam proses pemberian obat, dikhawatirkan hal tersebut dapat mengancam kesehatan pasien sekaligus memperburuk nama baik rumah sakit.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan kesalahan pemberian obat rumah sakit ke pasien. Salah satunya adalah kesalahan membaca resep dokter yang berakibat pada pemberian obat yang tidak sesuai. Pada 2018 BMJ Case Reports mempublikasikan laporan medis yang menyebutkan bahwa terdapat seorang apoteker di Skotlandia salah membaca resep dokter yang diberikan oleh seorang perempuan yang dirahasiakan identitasnya. Akibat kesalahan baca apoteker tersebut perempuan tadi salah diberi obat. Seharusnya ia mendapatkan obat mata bernama “VitA-POS”, tapi malah mendapatkan “Vitaros” yang merupakan disfungsi ereksi kelamin laki-laki.

Kesalahan lain yang dapat terjadi adalah pemberian obat yang sudah kadaluarsa. Apoteker sebagai manusia tentunya juga tidak luput dari kesalahan salah satunya kurang teliti melihat tanggal kadaluarsa obat. Hal tersebut pernah terjadi di Puskesmas Kamal Muara, Jakarta Utara pada 2019 lalu. Seorang ibu hamil diberikan obat vitamin B6 yang sudah kadaluarsa oleh apoteker puskesmas, akibatnya perut pasien menjadi sakit, kepala pusing, dan muntah-muntah. Korban akhirnya melaporkan kasus ini ke Polsek Metro Penjaringan dengan tuntutan perlindungan konsumen Pasal 8 UU RI  No 8 Tahun 1999.

Kesalahan-kesalahan dalam pemberian obat dapat dihindari dengan bantuan teknologi. Pada rumah sakit, sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS). SIMRS memungkinkan apoteker untuk membaca resep dokter dengan jelas karena resep dibuat secara digital melalui sistem berupa e-resep. Saat e-resep diterima oleh apoteker, sistem dapat langsung memberikan suggestion obat sesuai dengan kesesuaian resep dan persediaan yang ada. Pada SIMRS yang sudah baik, obat yang sudah kadaluarsa akan terdeteksi di dalam sistem dan tidak dapat “dikeluarkan”. Persediaan obat juga dapat diakses secara realtime. Hal-hal tersebut tentunya membuat pekerjaan apoteker lebih mudah karena tidak perlu memeriksa satu per satu tanggal kadaluarsa pada kemasan obat.

SIMRS yang baik akan mempermudah kinerja semua bagian tidak terkecuali apotek sebagai pengelola obat yang sangat vital perannya dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Obat merupakan barang konsumsi yang memberikan efek klinik paling besar terhadap penyakit atau gangguan pada pasien.

Neurovi Medical System merupakan SIMRS yang dapat membuat pengelolaan obat rumah sakit menjadi lebih mudah. Neurovi Medical System memiliki fitur data persediaan real time, rekomendasi obat sesuai resep, pembuatan resep obat racik, dan fitur-fitur pengelolaan obat lainnya yang tentunya dapat meningkatkan kecepatan dan ketepatan pelayanan rumah sakit.

Jadwalkan demo Anda sekarang juga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *