Makan Tiga Kali Sehari: Apakah Penting?

Makan adalah kegiatan yang kita lakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan nutrisi setiap harinya dengan mengkonsumsi makanan pokok. Anda pasti sudah sangat familiar dengan anjuran makan tiga kali sehari. Banyak yang menganggap makan sebanyak tiga kali merupakan sebuah kewajiban dan tidak sedikit yang menganggap pola makan yang kurang dari itu merupakan pola makan yang kurang sehat. Akan tetapi, pernahkah anda bertanya-tanya mengapa kita harus makan tiga kali sehari?

Pengaruh Revolusi Industri Inggris

Menurut laporan Denise Winterman dari BBC, kebiasaan makan tiga kali ternyata merupakan budaya Eropa yang kemudian diadopsi atau diterapkan oleh kebanyakan masyarakat di seluruh dunia. Pada masyarakat modern, revolusi industri memberikan pengaruh yang besar terhadap budaya makan tiga kali sehari. Revolusi industri pada abad ke-19 membuat masyarakat lebih modern di mana berpengaruh pada aspek berkegiatan yang menjadi lebih berpola. Para pekerja bekerja pada jadwal yang ketat sehingga membiasakan mereka untuk sarapan agar tenaga sepanjang hari tercukupi.

Jadwal yang ketat tersebut berpengaruh signifikan terhadap pola makan pekerja kelas menengah ke bawah yang kemudian juga diikuti oleh para atasan. Mereka bekerja keras dari pagi sampai sore sehingga sarapan saja tidak cukup dan makan siang dianggap sama pentingnya dengan sarapan. Setelah bekerja, mereka akan kelelahan, maka momen ini dirasa tepat untuk menyantap “full meal”. Malam hari juga dianggap sebagai waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga sehingga pada 1950-an muncul kebiasaan makan malam bersama keluarga.

Relevansi Makan Tiga Kali Sehari

Paul Freedman, professor dan sejarawan Yale University, menyatakan bahwa makan tiga kali sehari mulai ditinggalkan oleh masyarakat modern. Pola makan masyarakat saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor sosial-budaya dibandingkan faktor biologis dikarenakan jadwal yang semakin sibuk dan padat. Pergeseran pola makan juga dipengaruhi oleh masyarakat yang sekarang banyak mengkonsumsi gadget sehingga polanya bergeser ke “makan jika lapar”.

Pernyataan Freedman didukung oleh studi dari Euromonitor International pada 2011. Studi ini menemukan bahwa terdapat perubahan jadwal makan pada beberapa dekade terakhir. Beberapa faktor penyebabnya adalah jam kerja yang tinggi, gaya hidup yang sibuk, dan meningkatnya perempuan yang bekerja. Jadwal makan lebih fleksibel dan cenderung dipengaruhi oleh pekerjaan dan aktivitas refreshing ketimbang terpaku pada jam-jam tertentu.

Survei Euromonitor menunjukkan jam makan masyarakat Brazil, Inggris, dan AS lebih fleksibel. Berbeda dengan Tiongkok, Jepang, dan Perancis yang masih mempertahankan jadwal makan yang terstruktur.

Pengaruh dari semakin modern nya dunia juga dapat dilihat dari cara makan. Masyarakat modern semakin terburu-buru untuk sarapan sehingga junk food dan makanan kemasan yang dimakan secara on the go makin populer. Perubahan lain dapat dilihat dari kebiasaan makan siang di mana makin banyak orang yang memilih makan di meja kerja daripada makan di warung atau kantin dengan alasan lebih praktis dan hemat waktu.

Frekuensi Makan Ideal

Menurut ahli gizi Jansen Ongko, M.Sc, R.D., makan tiga kali sehari bertujuan agar kita tidak terlalu lapar menjelang waktu makan berikutnya. Seseorang yang makan 3 kali sehari memiliki jeda waktu sekitar 6-8 jam sedangkan pada orang yang makan hanya 2 kali sehari memiliki seda waktu 10-12 jam. Kabar baiknya, apabila Anda hanya makan 2 kali sehari, maka jeda waktu yang ada dapat diisi dengan memakan camilan sehat pengganjal lapar.

Pernyataan Jansen tersebut diamini oleh Dr. Edward Bitok, DrPH, MS, RDN, asisten professor LLU School of Allied Health Professions. Bitok mengatakan bahwa waktu jeda tiap makan lebih baik berada pada rentang 3-5 jam (tanpa menghitung waktu tidur). Waktu jeda tersebut merupakan rata-rata waktu perut untuk memproses makanan dan mengosongkan isinya untuk kemudian dilanjutkan ke usus halus.

Kondisi perut yang tidak terlalu lapar mencegah Anda menciptakan kebiasaan lapar mata dan mengkonsumsi makanan kurang baik seperti junk food yang mengandung zat gula, lemak, dan garam berlebih. Jeda makan yang tepat dan teratur dipercaya dapat membantu tubuh tetap sehat dan berenergi selama beraktivitas sepanjang hari.

Jansen juga mengatakan makan tiga kali sehari bukan satu-satunya patokan pola makan sehat. Daripada terpaku pada makan tiga kali sehari, akan lebih baik apabila Anda berfokus supaya asupan nutrisi dapat terpenuhi setiap hari. Asupan nutrisi yang terpenuhi membuat tubuh menjadi sehat.

Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada waktu dan frekuensi ideal mengenai kapan dan berapa kali Anda harus makan karena semua kembali lagi pada kebutuhan preferensi masing-masing.

Jika Anda lebih suka makan dengan porsi sedikit, maka tidak masalah untuk makan 5 kali sehari atau tiap 2-3 jam sekali. Jika Anda terbiasa makan dengan porsi normal, maka lebih baik makan 3 kali sehari. Hal terpenting yang perlu Anda perhatikan adalah keteraturan pola makan dan terpenuhinya kebutuhan nutrisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *