Mengelola dan Mengawasi BOR (Bed Occupancy Rate) Rumah Sakit

Rumah sakit sebagai pelayanan kesehatan tentunya harus memiliki berbagai fasilitas penunjang agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Salah satu fasilitas yang paling penting dari rumah sakit adalah tempat tidur atau bed untuk pasien rawat inap. Penggunaan bed di rumah sakit tentunya harus optimal supaya rumah sakit dapat beroperasi dengan maksimal tanpa harus mengalami kekurangan bed. Indikator yang dapat mengukur hal tersebut disebut dengan Bed Occupancy Rate (BOR) yang mungkin sudah familiar di telinga masyarakat semenjak lonjakan kasus Covid-19 pertengahan tahun lalu.

Bed Occupancy Rate (BOR) pada dasarnya merupakan angka yang menunjukkan persentase tempat tidur yang digunakan pada bangsal rawat inap rumah sakit dalam ukuran waktu tertentu. Penghitungan BOR dilakukan dengan menghitung jumlah total hari keperawatan yang dibagi dengan jumlah total tempat tidur tersedia dikalikan periode perhitungan tertentu. Dengan kata lain, BOR menghitung jumlah bed yang terisi pada periode waktu tertentu. Semakin tinggi nilai BOR, maka semakin tinggi pula jumlah pasien opname atau rawat inap di suatu rumah sakit.

World Health Organization (WHO) menetapkan Bed Occupancy Rate ideal maksimal sebesar 60%. Berarti apabila BOR rumah sakit melebihi angka tersebut maka dapat dikatakan rumah sakit dalam kondisi siaga. Seperti yang sempat terjadi pada Januari 2021 lalu di mana BOR nasional mencapai 63,3% dan masuk dalam kondisi siaga. Meskipun pada akhir tahun 2021 BOR pulih ke angka 2% secara nasional, namun lonjakan kasus Covid-19 varian Omicron menyebabkan BOR kembali naik menjadi 17% dengan DKI Jakarta sebagai provinsi dengan BOR tertinggi sebesar 58% per Februari 2022. Penting bagi rumah sakit untuk tetap mengawasi BOR secara real time agar ketersediaan bed tetap stabil dan tidak terjadi lonjakan pasien rawat inap secara tiba-tiba.

Proses monitoring atau pengawasan Bed Occupancy Rate dapat terbantu dengan adanya Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) yang sudah terintegrasi dan memiliki fitur Electronic Medical Record (EMR). SIMRS tersebut selain dapat memudahkan pengawasan ketersediaan bed di tiap bangsal rumah sakit juga dapat membantu proses pengelolaan pasien rawat inap secara cepat dan tepat dengan adanya modul rawat inap.

Neurovi Medical System merupakan SIMRS yang sudah memiliki fitur Electronic Medical Record (EMR) sehingga dapat membantu semua unit rumah sakit Anda mengelola dan mengawasi ketersediaan bed secara real time. Petugas tidak perlu melakukan panggilan ke bangsal untuk mencarikan kamar untuk pasien. Pembagian kamar juga dapat dilakukan secara lebih tertata. Rumah sakit juga bisa terbuka akan ketersediaan kamar dan bed terhadap pasien.

Pengelolaan BOR tentunya sangat penting bagi rumah sakit terutama di masa pandemi seperti sekarang. Pemerintah juga tentunya akan terus memperbarui persentase BOR baik regional maupun nasional. Neurovi Medical System selain membantu operasional juga memungkinkan pelaporan BOR rumah sakit ke pemerintah dilakukan secara praktis dengan bantuan EMR karena cukup dengan beberapa langkah saja.

Kabar baiknya, tidak hanya itu saja modul dan fitur yang dimiliki Neurovi Medical System. Untuk penjadwalan demo dan pertanyaan lebih lanjut mengenai SIMRS Neurovi Medical System segera hubungi kami!

Jadwalkan demo Anda sekarang juga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *